Rencana Terbit : Desember 2025
Tanggal Terbit : Desember 2025
Frekuensi Terbit : Tahunan
Ukuran : 8 Mb
Abstraksi
Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) Kota Payakumbuh merupakan visualisasi geografis/peta yang menggambarkan situasi ketahanan dan kerentanan pangan wilayah kelurahan yang diperoleh dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan. Informasi dalam FSVA menjelaskan lokasi wilayah rentan terhadap kerawanan pangan dan indikator utama daerah rentan terhadap kerawanan pangan.

Publikasi dapat diunduh di sini.

Metadata dapat diunduh di sini.

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) Kota Payakumbuh Tahun 2025 disusun berdasarkan 3 dimensi ketahanan pangan: Ketersediaan Pangan, Keterjangkauan Pangan, dan Pemanfaatan Pangan. Peta ini menggunakan 6 indikator komposit untuk mengklasifikasikan 47 kelurahan di 5 kecamatan ke dalam skala prioritas kerawanan pangan, sebagaimana diamanatkan UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan PP No. 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.

Hasil Komposit Ketahanan Pangan

Berdasarkan analisis komposit dari 47 kelurahan di Kota Payakumbuh, tidak ada kelurahan yang masuk kategori sangat rentan (Prioritas 1) maupun rentan pangan (Prioritas 2). Distribusi kelurahan berdasarkan skala prioritas:

6
Kelurahan

Prioritas 3 — Agak Rentan

30
Kelurahan

Prioritas 4 — Agak Tahan

11
Kelurahan

Prioritas 5 — Tahan Pangan

Unduh Tabel: Excel | Csv

Prioritas Kategori Jumlah Kelurahan Persentase
1 Sangat Rentan 0 0,00%
2 Rentan Pangan 0 0,00%
3 Agak Rentan 6 12,77%
4 Agak Tahan 30 63,83%
5 Tahan Pangan 11 23,40%
6 Sangat Tahan 0 0,00%

Kelurahan-kelurahan di Prioritas 3 cenderung rentan terhadap kerawanan pangan dan gizi, sedangkan kelurahan Prioritas 4, 5, dan 6 termasuk kategori tahan pangan. Wilayah dipetakan dalam gradasi warna merah untuk Prioritas 1–3 dan warna hijau untuk Prioritas 4–6.

Kelurahan Prioritas 3 (Agak Rentan Pangan)

Unduh Tabel: Excel | Csv

Terdapat 6 kelurahan yang masuk kategori agak rentan pangan, umumnya disebabkan oleh rendahnya rasio sarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tangga dan tingginya proporsi penduduk dengan kesejahteraan terendah:

  1. [1376010031] Kelurahan Talang
  2. [1376020006] Kelurahan Balai Jariang
  3. [1376030005] Kelurahan Napar
  4. [1376031003] Kelurahan Parambahan
  5. [1376030030] Kelurahan Taratak Padang Kampuang
  6. [1376030032] Kelurahan Tigo Koto Diate

Catatan Penting: Penentuan prioritas bertujuan mengidentifikasi wilayah yang lebih rentan untuk diprioritaskan dalam intervensi program. Kelurahan Prioritas 3 tidak berarti seluruh penduduknya dalam kondisi rawan pangan, demikian pula sebaliknya.

Rekomendasi Kebijakan

Terdapat 3 faktor utama yang memerlukan perhatian serius dari Pemerintah Kota Payakumbuh dalam memperkuat ketahanan pangan:

1. Akses Ekonomi

  • Meningkatkan program bantuan sosial dan jaring pengaman sosial bagi rumah tangga miskin — persentase kemiskinan tercatat 5,19% pada tahun 2024
  • Peningkatan sistem distribusi pangan melalui perbaikan sarana transportasi dan penguatan kelembagaan pasar
  • Stabilisasi pasokan dan harga melalui penetapan HPP (untuk petani) dan HET (untuk konsumen)
  • Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah secara berkala saat terjadi lonjakan harga
  • Tinjauan insentif produksi pangan bergizi: kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan

2. Dampak terhadap Gizi

  • Penyesuaian fokus kebijakan dari sekadar ketahanan pangan menuju Ketahanan Pangan dan Gizi
  • Integrasi kebijakan lintas sektor: pertanian sensitif gizi, kesehatan berbasis pangan lokal, perdagangan sensitif gizi
  • Pendekatan multi-sektoral melibatkan OPD, LSM, dan sektor swasta
  • Pelibatan perempuan lebih luas dalam program pertanian dan distribusi pangan keluarga
  • Penambahan komponen gizi dalam Program Keluarga Harapan (PKH)

3. Perubahan Iklim

  • Peningkatan sistem peringatan dini bencana slow-onset dan sudden-onset
  • Penguatan pengelolaan air, rehabilitasi irigasi, dan infrastruktur pertanian
  • Pengembangan varietas tanaman tahan iklim dan hama
  • Percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pendukung pertanian (irigasi, bendungan, dam)

Implikasi Kebijakan Konkret

  1. Kaji ulang fokus pangan pokok — memasukkan pangan lokal (umbi-umbian, jagung, ikan, sayuran, buah lokal) sebagai prioritas yang setara
  2. Integrasi kebijakan pertanian, kesehatan, dan perdagangan yang sensitif pangan dan gizi secara terkoordinasi antar OPD
  3. Sistem pangan terpadu melalui: pendekatan multi dimensi, pertanian ekologis multi komoditas (tanaman–ternak–ikan–hortikultura), rantai pasok berbasis IPTEK, dan kampanye masif stop boros pangan

🔍 Tantangan Ketahanan Pangan

  • Laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,37% (2020–2024), sementara produksi padi turun −11,62% dan jagung −6,63% dalam 5 tahun terakhir
  • Konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian terus meningkat seiring tingginya kebutuhan perumahan
  • Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, 82,98% petani di Kota Payakumbuh adalah petani gurem dengan lahan < 0,5 Ha
  • Menurunnya daya dukung sumber daya alam, anomali iklim, dan degradasi lahan
  • Lemahnya akses petani terhadap teknologi, informasi, pasar, dan permodalan
  • Infrastruktur pertanian belum optimal; tingkat kehilangan hasil (losses) masih cukup tinggi
  • Ketimpangan pendapatan: koefisien gini mencapai 0,313 pada tahun 2024

Tabel Pendukung:

  1. Tabel Sebaran Kesejahteraan Terendah (Excel | Csv)
  2. Tabel Sebaran Rasio Tenaga Kesehatan (Excel | Csv)